Tahap Perkembangan Hubungan Perkawinan
Sebagaimana
telah dikemukakan di atas, perkawinan adalah dinamis dan berlangsung secara
terus-menerus. Oleh karena itu, hubungan dalam perkawinan juga senantiasa
mengalami perubahan. Pribadi pasangan suami dan istri juga akan berubah dan
berkembang. Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk selalu bersandar
kepada prinsip dan pilar perkawinan kokoh dalamIslam selama menjalani kehidupan
rumah-tangga. Bagaimana perkembangan yang umumnya terjadi dalam hubungan
perkawinan?
1.Pada Mulanya adalah Jatuh Cinta
Secara umum,
hubungan lelaki dan perempuan bermula dari munculnya sebuah perasaan, yang
sering disebut sebagai "jatuh cinta." Jatuh cinta adalah kondisi
khusus yang tidak berlangsung lama. Pada tahap ini, seseorang mengalami
ketertarikan yang luar biasa kepada orang lain yang menjadi objek jatuh cinta.
Ada rasa ingin selalu berdekatan, berdebar bila sedang bersama, selalu memikirkan
sang objek, merasa mendadak cocok luar-dalam,merasa sangat dimengerti oleh sang
objek, dan lain-lain. Semua ini adalah tanda-tanda umum orang yang sedang jatuh
cinta sehingga muncul ungkapan "jatuh cinta itu berjuta rasanya" atau
"saat sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, sedangkan semua orang
lain hanya menumpang belaka."
Tetapi
sesungguhnya, dalam perkawinan modal jatuh cinta saja tak cukup. Perlu dipahami
bahwa, menurut para psikolog, jatuh cinta dengan cinta itu berbeda. Perasaan-perasaan
yang dirasakan kala jatuh cinta itu perlahan akan menghilang setelah pasangan saling
mengenal lebih dekat dan mulai membangun kehidupan bersama. Di sinilah
kedekatan emosi, gairah seksual, dan komitmen mulai berkembang dan menggantikan
rasa jatuh cinta. Hubungan menjadi lebih matang dan konsisten. Lalu dari sini
perlahan-lahan cinta yang sesungguhnya mulai tumbuh dan berkembang. Maka dimulailah
wujud nyata dari prinsip mengupayakan kondisi yang lebih baik (Ihsan).
BACA JUGA: Hubungan Perkawinan Menurut Andrew G. Marshall
2.Penghancur dan Pembangun Hubungan PerkawinanDampak dari tantangan dan dinamika perkawinan bisa bermacam-macam. Pada pasangan suami-istri yang berhasil menjalani proses dengan sehat dan baik, perkawinan menjadi tempat yang sangat nyaman dan sumber kekuatan untuk menghadapi tantangan kehidupan. Pada pasangan suami-istri yang tidak berhasil mengelola proses ini dengan sehat dan baik, perkawinan menjadi beban dan bahkan menjadi sumber masalah.
Al-Qur'an sudah menyebutkan perintah Allah SWT agar pasangan suami-istri bersikap dan berperilaku baik satu sama lain (mu'asyarah bil ma'ruf). Bagaimana bentuk nyatanya? Berdasarkan berbagai penelitian, para ahli psikologi keluarga menyatakan bahwa ada beberapa sikap dan perilaku yang bisa menghancurkan atau memperkuat hubungan pasangan suami-istri. Kita sebut saja keduanya sebagai Sikap "Penghancur Hubungan" dan "Pembangun Hubungan."
3.Terampil Berkomunikasi
![]() |
| senang mendengar cerita bersama |
Salah satu hal yang dianggap sering menjadi problem perkawinan adalah bagaimana suami dan istri berkomunikasi.Hubungan suami istri merenggang, karena tak mampu berkomunikasi dengan baik. Pasangan suami-istri yang mengenal dirinya sendiri dan mengenal pribadi pasangannya memiliki bekal untuk saling memahami dengan lebih mudah. Ditambah dengan terus menjaga komunikasi yang matang dengan pasangan, serta menjaga gairah di antara pasangan, maka komitmen dan kedekatan emosi akan tetap terjaga dengan baik. Dan dengan demikian,sampailah kita menjadi keluarga sakinah


